breadcrumb
breadcrumb
menu
Menu Cepat
Artikel Kampus
Informasi & berita terbaru
Cara Staf Pengembangan SDM Membagi Waktu Kuliah dan Pekerjaan: Pisahkan Agenda SDM dan Waktu Membaca
Pelajari cara staf pengembangan SDM membagi waktu kuliah, mengatur agenda pelatihan dan membaca, serta jadwal jurusan S1 Psikologi di UNAS PASIM.
Bekerja sebagai staf pengembangan SDM berarti jadwal tidak hanya dipenuhi pekerjaan administratif.
Ada pelatihan yang perlu disiapkan. Ada kebutuhan karyawan yang harus ditindaklanjuti. Ada komunikasi dengan peserta. Ada evaluasi kegiatan. Ada pula diskusi dengan atasan atau bagian lain mengenai pengembangan karyawan.
Ketika ingin kuliah Psikologi sambil bekerja, ada kebutuhan baru yang harus masuk ke kalender: waktu membaca, mengerjakan tugas, memahami materi, dan mengikuti kelas.
Masalahnya, pekerjaan di bidang SDM dan Psikologi sama-sama berkaitan dengan manusia.
Akibatnya, keduanya mudah terasa menyatu.
Padahal waktu untuk menyelesaikan pekerjaan dan waktu untuk belajar tetap perlu dipisahkan.
Bagi staf pengembangan SDM yang sedang mempertimbangkan S1 Psikologi, pertanyaannya bukan hanya:
“Kapan saya bisa kuliah?”
Tetapi juga:
“Bagaimana saya menyediakan waktu membaca tanpa terus tergeser oleh agenda pelatihan dan kebutuhan karyawan?”
Saat Agenda Pelatihan dan Tindak Lanjut Karyawan Membuat Waktu Belajar Bergeser
Bayangkan kamu sudah merencanakan membaca materi kuliah setelah bekerja.
Namun sore itu ada peserta pelatihan yang perlu dihubungi.
Ada kebutuhan karyawan yang harus ditindaklanjuti.
Ada evaluasi yang belum selesai.
Atau ada perubahan jadwal kegiatan yang membutuhkan koordinasi tambahan.
Waktu membaca akhirnya ikut bergeser.
Jika kondisi seperti ini sering terjadi, belajar hanya ketika pekerjaan benar-benar selesai akan sulit dipertahankan.
Karena itu, lebih realistis jika kamu memiliki dua pola:
- Minggu biasa, ketika agenda pengembangan SDM relatif stabil.
- Minggu sibuk, ketika pelatihan, evaluasi, atau tindak lanjut meningkat.
Target belajar pada kedua kondisi tersebut tidak harus sama.
Pisahkan Kalender SDM dan Waktu Membaca
Salah satu masalah yang sering muncul adalah waktu membaca tidak benar-benar mempunyai tempat di kalender.
Rapat memiliki jadwal.
Pelatihan memiliki jadwal.
Koordinasi memiliki jadwal.
Namun membaca sering hanya menjadi:
“Kalau nanti sempat.”
Akibatnya, kegiatan membaca selalu menjadi yang pertama dipindahkan.
Coba perlakukan waktu membaca seperti agenda lain.
Misalnya:
- Selasa: membaca satu materi.
- Rabu: membuat ringkasan.
- Kamis: menyelesaikan satu bagian tugas.
- Minggu: review.
Tidak harus selalu lama.
Sesi 30–60 menit tetap berguna jika hasilnya jelas.
Petakan Benturan Kuliah dan Pekerjaan dalam Kalender Tujuh Hari
Buat kalender berdasarkan pekerjaan yang benar-benar dijalani.
Masukkan:
- Jam kerja.
- Agenda pelatihan.
- Persiapan kegiatan.
- Tindak lanjut kebutuhan karyawan.
- Rapat.
- Waktu perjalanan.
- Jadwal kelas.
- Tugas kuliah.
- Waktu membaca.
- Tanggung jawab rumah.
- Waktu istirahat.
Setelah semuanya terlihat, cari ruang belajar yang realistis.
Sebagai contoh awal:
- Dua sesi belajar singkat sekitar 45–60 menit.
- Satu sesi tugas yang lebih panjang.
- Satu sesi review.
- Satu waktu cadangan.
Angka tersebut hanya contoh.
Sesuaikan dengan beban pekerjaan dan mata kuliah.
Bedakan Minggu Biasa dan Minggu Pelatihan Padat
Pada minggu biasa, gunakan waktu untuk kegiatan yang membutuhkan konsentrasi lebih tinggi.
Misalnya:
- Membaca materi baru.
- Mengerjakan tugas.
- Meninjau konsep perilaku.
- Membuat catatan.
- Mempelajari dasar penelitian.
Pada minggu sibuk, kecilkan target.
Misalnya:
- Membaca ulang catatan.
- Menyelesaikan satu bagian tugas.
- Membandingkan satu observasi dengan asumsi.
- Menulis satu pertanyaan.
- Menyiapkan bahan untuk kelas.
Dengan pola seperti ini, satu minggu pelatihan yang padat tidak otomatis menghentikan proses belajar.
Jangan Menunggu Semua Agenda SDM Selesai
Agenda pengembangan SDM bisa terus berlanjut.
Pelatihan selesai, muncul evaluasi.
Evaluasi selesai, ada tindak lanjut.
Setelah itu, muncul program berikutnya.
Jika membaca selalu menunggu seluruh pekerjaan selesai, waktunya akan terus bergeser.
Karena itu, tentukan batas.
Misalnya:
- Setelah jam tertentu, pekerjaan yang tidak mendesak tidak dimulai lagi.
- Satu malam tertentu digunakan untuk membaca.
- Satu sesi akhir pekan digunakan untuk tugas yang membutuhkan fokus lebih panjang.
Batas seperti ini membantu belajar mempunyai ruang sendiri.
Pecah Tugas Psikologi Menjadi Hasil Kecil
Jangan menulis target:
“Kerjakan tugas Psikologi.”
Pecah menjadi:
- Membaca instruksi.
- Menentukan konsep.
- Membaca satu sumber.
- Membuat catatan.
- Menentukan contoh.
- Menulis satu bagian.
- Menyusun kesimpulan.
- Memeriksa hasil.
Satu sesi tidak harus menyelesaikan semuanya.
Yang penting ada satu hasil yang bergerak.
Gunakan Target Berbasis Hasil
Daripada menulis:
“Belajar satu jam.”
Lebih baik menentukan hasil.
Misalnya:
- Menyelesaikan satu ringkasan.
- Membaca satu konsep.
- Menulis satu paragraf analisis.
- Membuat tiga pertanyaan.
- Menyelesaikan satu bagian tugas.
Target seperti ini lebih mudah dievaluasi.
Bedakan Observasi dan Asumsi
Staf pengembangan SDM sering berhadapan dengan perilaku orang.
Misalnya ada karyawan yang:
- Jarang berbicara saat pelatihan.
- Terlihat kurang aktif.
- Tidak banyak bertanya.
- Lambat menyelesaikan latihan.
Sangat mudah langsung menyimpulkan:
“Dia tidak tertarik.”
Padahal yang benar-benar terlihat mungkin hanya:
“Dia tidak mengajukan pertanyaan selama sesi.”
Itulah perbedaan antara observasi dan asumsi.
Observasi menjelaskan apa yang terlihat.
Asumsi adalah interpretasi yang dibuat dari apa yang terlihat.
Gunakan Kasus Rekaan untuk Melatih Pengamatan
Gunakan contoh sederhana.
Misalnya seorang peserta pelatihan:
- Datang tepat waktu.
- Menyelesaikan latihan.
- Tidak berbicara saat diskusi kelompok.
- Bertanya kepada fasilitator setelah sesi selesai.
Kemudian pisahkan:
Observasi
- Peserta tidak berbicara saat diskusi.
- Peserta bertanya setelah sesi.
Asumsi yang mungkin muncul
- Peserta pemalu.
- Peserta tidak percaya diri.
- Peserta tidak nyaman dengan kelompok.
Namun asumsi tersebut belum tentu benar.
Latihan seperti ini membantu membangun kebiasaan untuk tidak terlalu cepat menilai perilaku.
Hubungkan Belajar dengan Komunikasi
Memahami perilaku manusia juga berkaitan dengan komunikasi.
Dalam pekerjaan SDM, komunikasi digunakan ketika:
- Menggali kebutuhan.
- Memberikan informasi.
- Mendiskusikan pengembangan.
- Menangani pertanyaan.
- Memberikan umpan balik.
Belajar Psikologi dapat membantu melihat bahwa respons seseorang dipengaruhi banyak faktor.
Karena itu, komunikasi perlu diawali dengan usaha memahami konteks.
Jangan Langsung Menilai Motivasi Orang
Salah satu jebakan dalam pekerjaan pengembangan manusia adalah menjelaskan perilaku terlalu cepat.
Misalnya:
“Dia tidak ikut pelatihan karena tidak punya motivasi.”
Padahal mungkin ada faktor lain:
- Beban kerja.
- Jadwal.
- Kesehatan.
- Arahan atasan.
- Pemahaman mengenai manfaat program.
- Hambatan teknis.
Karena itu, lebih baik mengumpulkan informasi sebelum membuat kesimpulan.
Hubungkan Belajar dengan Dasar Penelitian Psikologi
Psikologi tidak hanya membahas perilaku melalui pengalaman pribadi.
Ada proses pengamatan dan penelitian.
Saat belajar, kamu mulai berhadapan dengan pertanyaan seperti:
- Bagaimana sebuah konsep didefinisikan?
- Bagaimana perilaku diamati?
- Bagaimana data dikumpulkan?
- Bagaimana kesimpulan dibuat?
- Apa keterbatasan informasi yang tersedia?
Cara berpikir seperti ini membantu staf SDM lebih hati-hati ketika menilai kebutuhan karyawan.
Dari Intuisi menuju Pertanyaan yang Lebih Terstruktur
Dalam pekerjaan sehari-hari, pengalaman sering membantu mengambil keputusan dengan cepat.
Namun, ada nilai ketika intuisi diperiksa melalui pertanyaan.
Misalnya:
Bukan hanya:
“Menurut saya karyawan ini kurang percaya diri.”
Tetapi:
- Perilaku apa yang sebenarnya terlihat?
- Dalam situasi apa perilaku muncul?
- Apakah selalu terjadi?
- Apa informasi lain yang tersedia?
- Apa yang masih belum diketahui?
Pertanyaan seperti ini membantu penilaian menjadi lebih terarah.
Gunakan Data Simulasi atau yang Diizinkan
Pengalaman kerja dapat menjadi konteks belajar.
Namun, tugas akademik tidak perlu menggunakan data personal karyawan.
Hindari penggunaan:
- Nama nyata.
- Hasil asesmen internal.
- Catatan kinerja terbatas.
- Informasi kesehatan.
- Data pribadi.
- Dokumen HR yang tidak diizinkan.
Gunakan:
- Kasus simulasi.
- Identitas fiktif.
- Data anonim.
- Situasi rekaan.
- Informasi yang memang boleh digunakan.
Tujuannya adalah melatih analisis tanpa membawa data pribadi ke ruang akademik.
Sisakan Waktu Cadangan untuk Agenda Mendadak
Jangan memenuhi seluruh kalender.
Sediakan satu blok waktu cadangan.
Gunakan ketika:
- Jadwal pelatihan berubah.
- Ada kebutuhan karyawan tambahan.
- Rapat bergeser.
- Tugas kuliah tertunda.
- Tubuh membutuhkan istirahat.
Kalender dengan ruang cadangan lebih realistis.
Jangan Mengandalkan Begadang
Bekerja dengan banyak interaksi manusia membutuhkan energi mental.
Membaca Psikologi juga membutuhkan konsentrasi.
Jika semua tugas baru dikerjakan ketika tubuh sudah terlalu lelah, pemahaman materi mudah menurun.
Pada minggu sibuk, kecilkan target.
Misalnya:
- Dari dua jam menjadi 45 menit.
- Dari satu bab menjadi satu bagian.
- Dari satu tugas penuh menjadi satu paragraf.
- Dari materi baru menjadi review.
Yang dijaga adalah konsistensi.
Hubungkan Kuliah dengan Kebutuhan Pekerjaan
Program S1 Psikologi mempelajari pikiran, emosi, dan perilaku manusia.
Bagi staf pengembangan SDM, bidang tersebut dapat membantu memperkuat:
- Observasi perilaku.
- Komunikasi interpersonal.
- Pemahaman perilaku manusia.
- Dasar penelitian psikologi.
- Pengembangan individu.
- Cara melihat kebutuhan orang secara lebih terstruktur.
Dengan begitu, waktu belajar tidak hanya digunakan untuk menyelesaikan tugas.
Ada kemampuan yang memang sedang dikembangkan.
Baca juga: Pelajari S1 Psikologi UNAS PASIM
Bangun Kebiasaan Belajar yang Mendukung Perubahan Peran
Kuliah sambil bekerja dapat mengubah cara melihat perilaku di tempat kerja.
Jika sebelumnya pertanyaannya:
“Kenapa orang ini seperti itu?”
Pertanyaannya bisa berkembang menjadi:
- Apa yang sebenarnya saya amati?
- Apa yang masih berupa asumsi?
- Informasi apa yang belum diketahui?
- Bagaimana komunikasi dapat dilakukan?
- Bagaimana perilaku dipahami secara lebih terstruktur?
Pembelajaran, diskusi, dan umpan balik dapat membantu pengalaman kerja berkembang menjadi pemahaman yang lebih sistematis.
Evaluasi Kalender Setiap Minggu
Setiap akhir minggu, tanyakan:
- Apakah pekerjaan utama selesai?
- Apakah bacaan Psikologi bergerak?
- Apakah tugas kuliah bertambah progresnya?
- Apakah agenda pelatihan mengambil seluruh waktu membaca?
- Apakah waktu istirahat masih cukup?
Jika membaca selalu tertunda, buat sesi yang lebih pendek tetapi lebih rutin.
Jika Sabtu terlalu penuh, pindahkan tugas akademik ke hari lain.
Contoh Kalender Minggu Biasa Staf Pengembangan SDM
Contoh sederhana:
Senin
- Fokus pekerjaan.
- Mengikuti kelas sesuai jadwal.
Selasa
- Fokus pekerjaan dan kelas.
Rabu
- Fokus pekerjaan dan kelas.
Kamis
- Fokus pekerjaan dan kelas.
Jumat
- Fokus pekerjaan.
- Mengikuti kelas malam.
Sabtu
- Mengikuti kelas sesuai jadwal.
Minggu
- Review.
- Menyelesaikan tugas atau membaca materi berikutnya.
Contoh Kalender saat Agenda Pelatihan Sedang Padat
Pada minggu sibuk, pola dapat diubah.
Awal minggu
- Majukan tugas yang memungkinkan.
Hari pelatihan
- Fokus pada pekerjaan.
- Gunakan sesi singkat untuk review.
Setelah kegiatan
- Hindari memaksakan tugas berat ketika energi sudah rendah.
Hari yang lebih longgar
- Gunakan untuk membaca atau menyelesaikan satu bagian tugas.
Dengan pola ini, pekerjaan tetap berjalan tanpa membuat kegiatan belajar berhenti total.
Menyesuaikan Waktu dengan Kelas Karyawan S1 Psikologi UNAS PASIM
Jika kamu sedang mempertimbangkan pendidikan formal, Universitas Nasional PASIM Bandung atau UNAS PASIM memiliki Program S1 Psikologi Kelas Karyawan (P2K).
Program ini mempelajari pikiran, emosi, dan perilaku manusia.
Gelar yang diperoleh adalah Sarjana Psikologi (S.Psi.).
Program Studi S1 Psikologi tercatat berakreditasi Baik, sedangkan institusi UNAS PASIM juga tercatat berakreditasi Baik.
Data program mencantumkan metode:
- Tatap Muka
- Hybrid Learning
Jadwal yang tercantum adalah:
- Senin: 17.30–21.30
- Selasa: 17.30–21.30
- Rabu: 17.30–21.30
- Kamis: 17.30–21.30
- Jumat: 18.30–21.30
- Sabtu: 08.00–19.00
Bagi staf pengembangan SDM, bagian yang perlu diperhatikan adalah transisi dari pekerjaan menuju kelas pada hari kerja dan durasi jadwal Sabtu.
Masukkan ke kalender:
- Jam selesai kerja.
- Agenda pelatihan.
- Rapat.
- Waktu perjalanan.
- Jadwal kelas.
- Waktu membaca.
- Waktu tugas.
- Waktu istirahat.
Informasi mengenai apakah seluruh hari tersebut merupakan satu paket wajib atau pilihan kelas dapat dikonfirmasi kepada pihak kampus.
Baca juga: Informasi S1 Psikologi UNAS PASIM
Perhitungkan Biaya Bersamaan dengan Jadwal
Selain waktu, pembiayaan juga perlu dimasukkan ke dalam perencanaan.
Data program mencantumkan:
- Biaya formulir: Rp100.000
- Biaya herregistrasi: Rp666.000
- Total biaya awal simulasi: Rp766.000
- Simulasi enam kali angsuran: Rp788.000 per bulan
Dengan mengetahui komponen biaya sejak awal, pendidikan dapat dimasukkan ke dalam perencanaan rutin.
Informasi umum kampus juga dapat dilihat melalui website UNAS PASIM.
Bawa Kalender Agenda SDM ketika Bertanya kepada PMB
Jika ingin mengetahui kecocokan program, jangan hanya bertanya:
“Apakah ini kelas karyawan?”
Bawa pola kerja yang sebenarnya.
Kemudian tanyakan:
- Apakah kelas Senin sampai Sabtu semuanya wajib?
- Apakah hari tersebut merupakan pilihan kelas?
- Bagaimana pembagian Tatap Muka dan Hybrid Learning?
- Apakah jadwal berubah setiap semester?
- Berapa banyak bacaan dan tugas di luar kelas?
- Bagaimana jadwal Sabtu 08.00–19.00 dijalankan?
- Apakah ada aktivitas akademik tambahan di luar waktu tersebut?
Pertanyaan seperti ini membantu mendapatkan gambaran yang lebih konkret.
Pisahkan Agenda SDM dan Waktu Membaca
Bagi staf pengembangan SDM, tantangan kuliah sambil kerja muncul karena pekerjaan dapat terus mengikuti kebutuhan orang lain.
Ada pelatihan.
Ada peserta.
Ada kebutuhan karyawan.
Ada evaluasi.
Ada tindak lanjut.
Sementara membaca membutuhkan ruang yang lebih tenang.
Karena itu, waktu belajar perlu dilindungi.
Mulailah dengan:
- Membuat kalender tujuh hari.
- Memisahkan agenda kerja dan waktu membaca.
- Membedakan minggu biasa dan minggu pelatihan padat.
- Memecah tugas menjadi hasil kecil.
- Membandingkan observasi dan asumsi.
- Menggunakan kasus simulasi.
- Menyediakan waktu cadangan.
- Menjaga waktu istirahat.
- Menghubungkan pengalaman kerja dengan observasi perilaku, komunikasi, dan dasar penelitian psikologi.
Dengan pola seperti ini, pekerjaan dan kuliah dapat berjalan lebih terstruktur.
Pengalaman dalam pengembangan SDM juga dapat menjadi konteks untuk memperdalam pemahaman tentang perilaku manusia tanpa hanya mengandalkan intuisi.
Pelajari S1 Psikologi di UNAS PASIM, pisahkan agenda SDM dan waktu membaca, lalu diskusikan kecocokan jadwal Tatap Muka dan Hybrid Learning dengan PMB sebelum mendaftar.
Hubungi layanan kami
Pusat Bantuan Kampus
Kampus UNAS PASIM • Jl. Dakota No.8A, Sukaraja, Kec. Cicendo, Kota Bandung, Jawa Barat 40175
Tagged (Tags) :
© 2026 Universitas Nasional PASIM Bandung. All rights reserved.
UNAS PASIM